Coba tengok pekerja kelas menengah – bawah,
Mengapa masih banyak dari mereka, bahkan setelah sekian tahun bekerja di perusahaan yg cukup besar, masih tinggal di rumah kontrakan?
Mengapa masih banyak yg numpang dirumah mertua?
Mengapa masih banyak yg kos bersama istrinya??
Kalaupun punya rumah,
Adanya puluhan kilometer jauhnya dari lokasi mereka bekerja.
Depok – tangerang – bekasi – cibubur – bogor – bahkan sukabumi
Kalau di rata”, lebih dari 3jam / hari, para pekerja ibukota, menghabiskan waktu di jalan, terjebak kemacetan, waktu bersama keluarga berkurang, tingkat stress bertambah, produktivitas kerja pun menurun.
Lalu apa yg salah, sehingga kok sulit punya tempat tinggal di jakarta??
Padahal menurut UU, adalah tugas pemerintah (daerah) utk menyediakan rumah yg layak bagi masyarakat.
Ada 2 penyebab suliiiitnya membeli rumah di jakarta”..
1. Karena aturan pemerintah
2. Karena spekulan
Kalu dikomplilasi (macam lagu aja) , semua sebab diatas terjadi karena “lembeknya pemerintah”.
1. Dari sisi aturan, BI gagal mengontrol suku bunga kredit / pinjaman bank” swasta. Akibatnya suku bunga kredit rumah tetap melambung tinggi, bahkan dirasa mencurangi debiturnya.
Tingkat bunga 14 persen membuat para karyawan menengah bawah, berkeringat dingin.
Kurang ajarnya lagi, meski BI sudah menetapkan bunga acuan, bank – bank swasta ini ngga mau mengikuti bunga acuan.
Kalau bunga acuan naik, suku bunga kredit ikut naik.
Tapi kalo bunga acuan turun, suku bunga kredit ngga mau turun.
Selain BI, kementrian perumahan rakyat dan pemda juga sama “dosa”-nya
Selama ini kementrian perumahan rakyat, seperti tutup mata terhadap realita di lapangan, bahwa harga rumah semakin ngga terjangkau para pekerja kelas menengah kebawah. Entah itu landed housing (perumahan konvensional), atau vertical housing (apartemen – rumah susun, dsb).
Proyek rusunami, yang digembor gemborkan sebagai proyek pemerintah, sebagai rumah untuk rakyat kelas menengah bawah, lagi-lagi jadi “makanan empuk” para investor dan spekulan. Kalau diteliti lagi, peran pemerintah dalam proyek rusunami ini cuma memberi subsidi bunga cicilan (KPA) selama 5 tahun pertama, dan mengatur harga jual unit rusunami.
Tapi oh tapi, biar udah disentil kayak apa (lewat liputan” saya tentunya), cuma sebatas itu aja peran pemerintah. Mereka ngga nyumbang lahan, mereka ngga mengawasi proses jual beli, mereka ngga mempermudah perizinan, mereka ngga tegur pengembang yang nakal, yang mereka lakukan cuma membuat peraturan pemerintah-petunjuk pelaksanaan, yang lagi-lagi ngga pernah dituruti para pengembang.
AKIBATNYA??
Harga rusunami yang “teorinya” sudah dipatok 144 juta rupiah (utk tipe paling besar luas 33m2), bisa melambung seenak hati para pengembang. Silahkan hubungi masing-masing marketing rusunami, saya jamin yang ngasi harga 144 juta itu, rusunami pinggiran yang letaknya di tangerang, mengarah ke bekasi (promosinya “casablanca”) kalideres (promosinya daan mogot), sementara semua rusunami yang dibangun di agak tengah kota, dijual dengan biaya siluman tambahan sebesar 15 – 60 juta rupiah.
Jangan dulu liat harga, liat seberapa layak rusunami untuk dihuni oleh keluarga kecil. Iseng” coba tengok show unit rusunami dengan luas paling besar 33 m2 (utk harga 144 juta rupiah) di kalibata residence, lalu coba berpikir dengan keras, dimana mau naruh kulkas + lemari tidur / mesin cuci ??
jadi sudah mahal, dan ngga layak huni pula.
Apa saya terlalu berkeluh kesah?? ngga juga, silahkan liat rusunami di kalibata, catet harganya, lalu kalo kebetulan mampir ke negeri tetangga (yang sering kita hujat), liat-liat rusunami versi negeri jiran. Dengan luas minimal 50m2 utk tipe yang paling murah (sekitar 70-80 jutaan), rumah vertikal disana bisa terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.
Gimana engga?? Pemerintah malaysia sangat tegas mengatur harga dan jual beli rumah, supaya tetap terjangkau oleh rakyat. Dengan DP 10 persen, dan cicilan yang bisa sampai 50 tahun, apartemen sederhana dengan luas yang sangat cukup untuk keluarga kecil, dijual dengan harga yang lebih murah daripada apartemen di indonesia, dan dengan status kepemilikan sampai 90 tahun. (sementara di indonesia strata title hanya 35 tahun)
2. Spekulan
spekulan dimana mana, menggurita bak cikxxs (uups sensor, nanti ada yg bikin blog tandingan lagi).
Ada spekulan kelas bulu. Biasanya spekulan kelas bulu ini, bermain dlm jumlah satuan. Misalnya Jefry (nama samaran), baru dapat uang 100 juta dari hasil judi sabung ayam. Karena bingung mau ditaruh mana, Jefry lalu beli 1 unit rusunami seharga 80 juta. Padahal dia ngga butuh rusunami ini, karena sudah punya 2 rumah hasil judi sabung ayam.
Jefry lalu menjual rumah ini seharga 100 juta, ambil untung 20 juta. Kebetulan, jefry spekulan kelas bulu pertama yang beli rusunami, dan melakukan aksi profit taking atas rusunami tadi. Setelah punya 100 juta, jefry menang 60 juta lagi dari sabung ayam. Dia beli lah 2 unit rusunami 80 jutaan, dijual lagi seharga 100 juta.
Gara-gara jefry main jual-beli rusunami, dibeli 80 , jual 100 juta, terbentuklah keseimbangan harga baru.
Walhasil orang-orang seperti Jaka, yang baru kerja 2-3 thn, nabung mati-matian tuk bisa beli rusunami, akhirnya menunda beli rusunami karena harganya sudah naik. Ngga sesuai dengan di brosur.
Untungnya spekulan kelas bulu kayak Jefry ini ngga gitu banyak jumlahnya. Biasanya jefry kalah borongan, dengan spekulan kelas berat. Namanya RAY WHITE, CENTURY 21, atau LJ HOOKER.
Spekulan kelas berat ini, punya gelar lain, yaitu AGEN PROPERTI. Kalau di kalangan neo-lib, mereka didewa-dewakan, diundang terus menerus ke bursa saham. Lalu kalau situasi keamanan atau politik dalam negeri lagi gonjang-ganjing, para kaum neo-lib, menakut-nakuti pemerintah menggunakan nama INVESTOR. Agen properti, nampaknya entah sejak kapan tergabung dalam paguyuban INVESTOR tadi.
Back to business, para investor ini kerjanya lebih parah dari kang jefry tadi. Kalau kang jefry, dalam 2 bulan cuma mampu beli-jual 2-3 rusunami, naah si RAY atau si CENTURY ini kerjanya memborong rumah-rumah di indonesia. Mulai dari yang harganya milliaran, sampai yang harganya cuma puluhan juta, seperti rusunami tadi.
Setelah rumah-rumah dibeli oleh si RAY atau CENTURY, harga rumah bisa melonjak 30 % an.
Nah berkat spekulan macam kang jefry dan agen properti macam RAY ini, harga rumah di indonesia jadi meningkat pesat.
Lalu apa salahnya kalau harga rumah meningkat?? Tambah mahal setiap tahun??
Kalau kita tanya orang-orang lulusan ekonomi, mereka akan menjawabnya dengan teori-teori ekonomi atau pasar dan sebagainya. Intinya, menurut ilmu ekonomi hal itu (makin mahalnya harga rumah), ngga salah.
Tapi saya punya ilmu sendiri, yaitu ILMU PEMERATAAN KESEJAHTERAAN.
Ngga semestinya sektor perumahan, yang menjadi tumpuan banyak orang diperjual belikan, dengan harga yang spekulatif diserahkan ke mekanisme pasar. Cari untung dengan berdagang, ya silahkan. Tapi semestinya, pengusaha aware dengan kondisi sosial warga negara tempat ia meraup untung.
Di indonesia, jumlah rumah tangga yang tidak mempunyai tempat tinggal semakin meningkat. Pada 2009, jumlah rumah tangga yang tidak punya rumah tinggal,sekitar 7,… juta rumah tangga. Naik hampir 20 persen dari jumlah sebelumnya, 5,… (lima koma sekian) juta rumah tangga. Ini menurut Bappenas.
Sementara menurut BPS, pada tahun 2007 saja (jadul banget ya statistiknya), ada 12,5 juta penduduk yang tidak punya rumah.
Jumlah ini bisa bertambah, karena agen properti besar seperti si bang RAY, atau mas CENTURY tadi, mulai menyasar rumah untuk kalangan menengah kebawah.
Kalau dulu, agen properti in dikenal sebagai real estate agent, karena mereka menjadi perantara untuk rumah-rumah mewah, sekarang bang RAY dan mas CENTURY, bersaing dengan kang JEFFRY, dulu-duluan merebut rumah sederhana, bahkan rusunami yang sejatinya dibuat untuk masyarakat ekonomi rendah.
Jadi siap-siap saja kecewa, rusunami yang digagas salah satunya oleh pak JK, ternyata lagi-lagi jadi mainan jual beli orang kaya. Mimpi untuk punya rumah tinggal layak, seperti misalnya di negeri jiran malaysia, butuh tidur 1001 tahun agar bisa jadi kenyataan.
Bimzki
I was nobody, until i tried to be somebody.