Just another Edublogs.org weblog
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jan | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |
| 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 |
| 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 |
| 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 |
Bagi yang pernah bernafas di tahun 90-an, mudah-mudahan masih ingat dengan poster film di bioskop, yang sebagian menggunakan kata ranjang atau gairah, atau perawan.
Tahun 90-an, waktu saya masih SD, satu-satunya bioskop yang saya tahu cuma bioskop di pasar mayestik, jakarta selatan. Saya jadi tahu bioskop ini karena mama sering ngajak saya makan di depan toko sepatu Bata, yang letaknya ngga jauh dari poster film bioskop mayestik.
Walhasil, judul film yang berkaitan dengan kata” ranjang atau pengantin, atau gairah perawan, lumayan terekam di kepala saya.
Ditambah lagi, pengalaman kedua saya nonton film layar tancep waktu baru pindah rumah ke ciledug, adalah nonton film kolosal yang dibumbui adegan ranjang.
Barangkali koki dari film ini, kebanyakan ngasih bumbu adegan ranjang ya, kok malah yang terekam di kepala saya malah aktris nya yang mendesah dan menggeliat dibanding, jurus silatnya barry prima (ato emang otak saya yang maunya ngerekam adegan itu?xixixi)
Dan setahu saya, waktu itu, tahun 90-an, cuma itu film -film indonesia yang diproduksi. Film yang identik dengan paha, desahan dan adegan ranjang.
zzzzzzzttttttt [fast forward]
Masuk tahun 2000 awal, film-film baru bermunculan. Dimulai dengan AADC (ada apa dengan cinta), lalu GIE, May, film horror yang menggebrak Jaelangkung, Janji Joni, Denias, Ayat-ayat cinta, dan banyaaaak lagi film berkualitas lainnya.

MAY, film nya keren, kualitas festival, alur cerita yang kuat, dan mengungkap sejarah kelam indonesia. Sayangnya kurang promosi nih film, jadi ngga banyak yang tahu.
Pikir saya waktu itu, tahun 2000an adalah masa kebangkitan industri film Indonesia.
Film-film yang diproduksi era itu, mampu membawa realita masyarakat yang selama ini dikarungi, mampu menghibur, dan mampu melahirkan sineas sineas muda yang jenius.
Tapi kok..??
Saat kita sampai di ujung era 2000 an, genre film “porno diselipi…” mulai merambah lagi industri film kita.
Menyelusup secara halus, lewat film komedi seperti Extra Large, atau Kutunggu Jandamu di tahun 2008 – 2009, adegan ranjang mulai merasuki film horor.
Dan sekarang, 2010, para suster mulai mengacak-ngacak industri film Indonesia.
Eranya hantu buka-bukaan
Liat saja film Suster Keramas.
Kalau kita mengira SK film horror, yang diselingi adegan panas, SALAH BESAR.
Yang ada, SK itu adalah film porno yang diselingi adegan horror, karena mungkin 70% kapling di pita film itu, didominasi gambar paha, dada, liukan tubuh, desahan, atau gerakan-gerakan vulgar.
Agak berbarengan dengan film suster keramas, ada juga film Hantu Puncak Datang Bulan.
Ngga usah lihat full filmnya, yang ternyata sekarang di cekal oleh MUI, (kok sekarang MUI jadi pengamat film porno ya???) sudah ketebak kalau adegan si hantu puncak ini, 11-12 dengan SK.
Lihat aja ni capture dari thriller nya ..
Well anyway, saya sih jadi prihatin aja, kok kualitas film nasional kita jadi terjun bebas lagi ya??
Soalnya saya sendiri termasuk senang nonton film horor, dan mestinya filmaker kita bisa buat film horor tanpa harus memasukkan unsur adegan ranjang sebagai daya jualnya. Kalaupun jadi bumbu, tuangkanlah sedikit dei sedikit dengan sedok teh, supaya rasa gurihnya bisa ketakar sebelum matang.
Jangan sampai nabur bumbunya pake sendok coktail gede, sehingga rasanya “terlalu” [mengutip bang Oma], dan bikin enneg yang memakannya.
notes: Bukannya anti adegan ranjang, kalau mau bikin film adegan ranjang yaa bikin aja film porno yang berkualitas, dan hanya bisa ditonton kalangan terbatas. Jangan bikin film semi porno, tapi promosinya malah bikin film horor…!!!
Mau beli kacang rebus, malah dikasih kacanggoreng. Kebanyakan minyak pula gorengnya…
Berita ini saya kutip dari vivanews.com. Artikel yang sangat menggambarkan sesungguhnya kinerja menteri kita.
Kebetulan baru kemarin saya meliput hal yang sama. Cuma kali ini 3 menteri (menteri perdagangan, BUMN, pertanian) + dirut bulog, yang mengunjungi pasar induk beras cipinang.
mereka datang, nyimak presentasi (sambil sebagian sibuk ngunyah suguhan kacang rebus), setelah itu koar-koar meyakinkan bahwa pasokan beras stabil, distribusi stabil, kenaikan harga wajar, dan akhirnya “ngga ada yg perlu dikhawatirkan”.
saat mereka mengunjungi pedangan beras, salah satu pedagang ngasi saran ke mustafa abubakar, kalo operasi pasar itu ngga efektif, karena berasnya gak laku. Bukannya saran dari pelaku pasar didengar, malah memotong omongan si pedagang tadi, dan kembali berkoar “nanti kita gandoli, pasti turun pasti turun”.
padahal itu kesempatan terbaik mereka, mendengar situasi sebenarnya yang terjadi di pasar beras. pedagang yang memberi saran bahwa OP tidak efektif, malah ngga didenger..
Setelah itu, mereka keliling 5 menit (kapok kali dialog dgn pedagang), foto-foto, lalu ngacir naik mobil dinas masing-masing.
MENTERI FOTO FOTO
Tujuh menteri hari ini melakukan kunjungan kerja ke Kantor Pelayanan Utama Tipe A Tanjung Priuk, Jakarta. Puluhan wartawan dan juru foto diajak dalam kunjungan kerja ini.
Dari Kantor Menko Perekonomian pukul 15.00 WIB, deretan bus dan mobil pribadi beriring-iringan memulai awal kunjungan kerja. Mulanya banyak wartawan memprediksi kunjungan ini akan menjadi berita yang layak jual. Tak heran, beberapa media mengirimkan tidak hanya satu wartawan.
Pasalnya menteri yang datang adalah Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Perindustrian MS Hidayat, dan Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar, Menteri Perhubungan Freddy Numberi, dan Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan.
Tak disangka, sampai di Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priuk, para menteri yang tiba pukul 16.20 WIB hanya melihat Posko Pelayanan Kepabeanan 24 jam, kurang dari 5 menit. Para menteri selanjutnya naik ke ruang rapat gedung ini di lantai 1.
Wartawan pun terhenyak. “Kok rapat,” tutur wartawan saling bertanya. Kepala Humas Bea dan Cukai Evy Suhartantyo mengatakan, para menteri hendak mendengarkan presentasi dari Dirjen Bea dan Cukai tentang kesiapan Bea dan Cukai menghadapi pelaksanaan perjanjian perdagangan bebas (FTA) ASEAN-China.
Usai rapat, ketujuh menteri itu pun menggelar konferensi pers. Isinya pun standar, tidak banyak hal baru. Setelah konferensi pers yang hanya 15 menitan itu, para menteri pun langsung kunjungan ke lapangan.
Sayangnya, tidak banyak yang berkesan dari kunjungan lapangan para menteri. Mereka hanya naik bus khusus, kemudian menuju pelabuhan tempat bongkar muat Jakarta InternationL Container Terminal. Para menteri kemudian turun bus dan terlihat saling berbicara dan bercanda. Kemudian, setelah wartawan dan juru foto berkumpul semuanya, para menteri kemudian berfoto dengan latar belakang kapal kontainer yang sedang melakukan bongkar muat.
Usai kejadian itu, para menteri pun menuju ke mobil dinas mereka dan pergi meninggalkan lokasi. “Lho kok cuman foto,” ujar para wartawan terheran-heran. Kunjungan kerja pun usai pukul 18.10 WIB. (dikutip dari vivanews.com)
Bu$ine$$ of Journali$m
A fiction about politic reality, greed and irony
Kuala Lumpur, 29th Oct 2009
Bima Marzuki
Business pf journalism is now racing to be a very promising business. Net profit gained from running this business, not only in material benefits, but also a “person”.
Recently, the entrepreneur who is also known as menteri men tidak sejahterakan rakyat, (ministry of making people poorer (abbreviated menkomesra) Aburisol Bakki, also called “Risol” feel the benefit.
This smooth-haired minister, using his electronic media, TV Won, to take him to the party’s top leadership Golbar. Through impressions of TV Won news programs, the name seemed Aburisol Bakki cleansed of all previous sins.
In fact the whole society Indonusa know, that Aburisol Bakki, is the “Man Behind” tragedy indro mud-cloth, in eastern Java. But thanks to a strong “hand” from the president Ice Bi Wai which trying to pay his financial debt, then Aburisol Bakki, just like AC Milan striker – Filippo Inzaghi, always escaped the offside trap and escort the players back.
But the success of Aburisol Bakki in reaching the throne golbar party, is not easily accessible. Strict opposition came from fellow entrepreneurs, Suria Faloh, entrepreneurs who also has a TV news station, Merto TV.
Suria Faloh’s Merto TV used as “tools to gain political strength”, by preaching that always deliver a speech in Suria Faloh duration even longer than the duration of the president’s speech Ice Bi-Wai.
Three minutes, five minutes, even more, was never enough to deliver a speech in Faloh Suria Merto TV news programs. Because, TV Won, have a powerful weapon to raise the prestige Aburisol Bakki, which surgical candidates through the program Golbar party chairman.
But unfortunately Suria Merto TV Faloh and his unsuccessful overpower filthy lucre from Aburisol Baki, who had said it would disburse funds to 1 trillion rupiah Golbar party endowment fund. (And according to intelligence sources, Tray Aburisol taxes owed to the State for 800 billion rupiah).
Business Journalism; Buy 1 Get 1

The success of the throne Aburisol Bakki’s Golbar party, using TV Won as a weapon, making Aburiso Bakki must give tribute to the president of Ice Bi-Wai. So as a token of thanks, was appointed “other Risol ” to become one Golbar DPP chairman, the “Risol Malah Langgeng”.
Appointment of Risol Malah Langgeng as one Golbar DPP chairman, caused controversy in the internal party. The voices refused Risol Malah Langgeng , intensified in the internal party. While the external party, a question mark appears thousands, and thousands also shake of the head of the journalists, political observers and activists.

Presence Risol oppose because he was chairman of the campaign team of presidential couples – Ice Be Wai and Budi Londo. During the campaign, he often attacking Golbar party with issue offending Jusuf Karma and Wiratna.
Moreover Risol Malah Langgeng had not been previously Golbar party membership, and the famous “slippery” and “disloyal” in politics. (yaaa right, like you can find the loyal one)
The Risol’s entry into the management of Golbar party, added to the list of long series, due to business journalism practiced by Aburisol Bakki.
Now realized it or not, some journalists who are looking for a loaf of bread on TV Won, can only regret having let themselves, the principles and their self-esteem, sold, mortgaged for the sake of the few purely political.
Political interests, that there is no benefit to the beloved people’s of republic Indonusa.
Bima Marzuki
Kuala Lumpur 17 Oct 2009
Standing beside me, is a fat blonde women. She had a glass of wine in her left hand, while the right one holding a cigarette.

The smoke always comes out her mouth, blowing into my face.
Her eyes telling me that she wants to get laid, by anybody, any guys who come up from the door.
Rita, stand for Senorita, her popular name, has been here before I got this job.
She once a diva.
She used to be smoking hot. Smooth skin, straight blonde hair, with the those thin lips that any man couldn’t resist.
But now, Rita is like an old wood chair that has never been seated again. We only put it at the bar’s corner, just not to put it in the dumpster.
It feels sick, when it times for me to find another chair that any man wants to seat on it. The job that helps me feed both of my daughters.
I fed my daughters, from selling Rita’s body. Rita, Mary and other ladies.

When I have the money in my hand, while in the other hands, Rita’s complaining about the rough time she just had, I felt like reserving a place for my daughter in hell.
Now I feel like a part of hell itself. So it won’t be matter if today, I threw Rita to the dumpster, and sell other smooth wooden chair for those guys who need to be seat.

Sebuah fiksi tentang realitas politik, keserakahan, dan ironi; Bima Marzuki.


Bisnis jurnalistik kini melesat menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Keuntungan bersih yang didapat dari menjalankan bisnis ini, tak hanya menguntungkan secara materi, tapi juga secara “pribadi”.
Baru-baru ini, pengusaha yang juga menteri koordinator men-tidaksejahterakan rakyat (disingkat menkomesra) Aburisol Baki, yang akrab dipanggil “Risol” merasakan manfaatnya.
Menteri berambut klimis ini, menggunakan media elektonik miliknya, TV Won, untuk mengantar dirinya menuju pucuk pimpinan partai Golbar. Lewat tayangan program berita dari TV Won, nama Aburisol Baki seakan dibersihkan dari segala dosa-dosa terdahulunya.
Padahal seluruh masyarakat Indonusa tahu, bahwa Aburisol Bakki, adalah “Man Behind” tragedi lumpur lap-indro, di jawa timur. Namun berkat sokongan finansial yang kuat dari Aburisol Baki pada presiden Es Bi Wai, maka Aburisol Baki, bagaikan striker kesebelasan sepak bola AC Milan – Filippo Inzaghi, selalu lolos dari jebakan offside dan kawalan pemain belakang.
Namun keberhasilan Aburisol Baki mencapai tahta partai golbar, tidak dicapai dengan mudah. Perlawanan ketat datang dari sesama pengusaha, Suria Faloh, pengusaha yang juga mempunyai stasiun tv berita, Merto TV.
Suria Faloh memanfaatkan Merto TV sebagai “tools to gain political strength” , lewat pemberitaan yang selalu menayangkan pidato Suria Faloh dalam durasi yang bahkan lebih lama dari durasi pidato presiden Es Bi Wai.
Tiga menit, lima menit, bahkan lebih, terasa tak pernah cukup untuk menayangkan pidato Suria Faloh dalam program berita Merto TV. Sebab, TV Won, punya senjata ampuh untuk menaikkan pamor Aburisol Baki, yaitu lewat program bedah calon ketua partai Golbar.
Tapi sayangnya Suria Faloh dan Merto TV nya tidak berhasil menandingi kekuatan fulus dari Aburisol Baki, yang sempat menyatakan akan mengucurkan dana 1 Trilliun Rupiah untuk dana abadi partai Golbar. (Padahal menurut sumber intelejen, Aburisol Baki berhutang pajak kepada Negara sebesar 800 Milliar Rupiah).
Bisnis Jurnalistik ; Beli 1 Dapat 1
Keberhasilan Aburisol Baki menduduki tahta partai Golbar, dengan menggunakan TV Won sebagai senjatanya, membuat Aburisol Baki harus memberi upeti pada presiden Es Bi Wai. Maka sebagai tanda terima kasih, diangkatlah “Risol” lainnya untuk menjadi salah satu ketua DPP Golbar, yaitu “Risol Malah Langgeng”.

Pengangkatan Risol Malah Langgeng sebagai salah satu ketua DPP Golbar, menimbulkan kontroversi di internal partai. Suara-suara menolak Risol Malah Langgeng, semakin menguat di internal partai. Sementara dari external partai, muncul beribu tanda tanya, dan beribu pula gelengan kepala dari para jurnalis, pengamat politik, dan aktivis.

Kehadiran Risol ditentang, pasalnya ia adalah ketua tim kampanye pasangan capres – cawapres Es Bi Wai dan Budi Londo. Pada masa kampanye, Risol seringkali menyerang partai Golbar dengan isu-isu untuk menjatuhkan pasangan Jusuf Karma dan Wiratna.
Apalagi Risol Malah Langgeng sebelumnya tidak pernah menjadi anggota partai Golbar, dan terkenal “Licin” dan “tidak setia” dalam berpolitik. (Laiyaa laah mana ada politikus yang setia….!!)
Masuknya Risol ke dalam kepengurusan partai golbar, semakin menambah daftar rentetan panjang, akibat bisnis jurnalistik yang dipraktekkan Aburisol Baki.
Kini sadar atau tidak, sebagian wartawan yang mencari sebongkah roti di TV Won, hanya bisa menyesal telah membiarkan diri mereka, prinsip dan harga diri mereka, dijual, digadaikan demi kepentingan politk segelintir orang semata.
Kepentingan politik, yang tiada manfaat bagi rakyat republik Indonusa tercinta.
To be continued…
Tulisan ini dikutip dari milis jurnalisme.
Banyak makna yang bisa diambil, terutama bagi para jurnalis, atau “vokalis” (sebutan ngaco dari saya utk orang yang vokal menyuarakan kepentingan rakyat), agar bisa melihat jati diri sebenarnya.
Saya ngga kenal dengan mba Rien, tapi saya percaya, kisah mba Rien, hanya secuil dari apa yang sedang terjadi di kalangan media massa. Penggerusan Idealisme, dan Penumpukan Komersialisme.
Selamat Membaca..
Rien Kuntari, sahabat saya – wartawan senior Kompas yang baru-baru
ini dipecat, saat ini sedang berada di New York, Amerika Serikat. Keberangkatannya ke AS tentu sangat berbeda dengan keberangkatannya ke Irak 1991 saat ia menjadi reporter baru di harian beriklan terbesar di Indonesia itu. Ia berangkat Amerika Serikat dengan perasaan yang hancur, bukan sebagai anak macan atau harimau yang haus mengungkap cerita, tetapi sebagai wartawan senior yang telah dibuang oleh induknya.
Sepanjang saya tahu, Rien adalah salah satu wartawan terbaik yang pernah dimiliki kompas, ia sangat mencintai Kompas seperti seorang kekasih, ia pernah menjadi wartawan kebanggaan di antara para petinggi Kompas di masa lalu. Untuk itulah tulisan ini dibuat. Rien sekarang sudah dipecat, namanya menjadi olok-olokan di antara para juniornya yang sudah puas dengan upah tiga kali UMR, seolah-olah Rien wartawan malas, pemakan gaji buta yang layak diperlakukan sewenang-wenang.
Saya kenal Rien sejak lama. Sejak sebelum kami bertemu di Palmerah. Saya memanggilnya dengan sebutan “mbak” Rien karena ia memang kawan seangkatan kakak saya. Ia di Stella Duce, kakak saya di de Britto, sebelum keduanya melanjutkan studi ke IKIP Sanata Dharma. Saya mengenal keluarga Rien sejak kecil. Ibunya kawan ibu saya. Ayahnya kawan ayah saya. Kakak-kakaknya kawan kakak-kakak saya. Sosok Rien dulu dan sekarang tidak banyak berubah. Rien seorang perempuan mungil. Ia selalu berpakaian rapi. Tutur bahasa dan tingkah lakunya, seperti layaknya seorang gadis Jawa. Akan tetapi berbeda dengan gadis jawa, Rien berambut keriting dan tomboy.
Ketika saya masih jadi reporter ingusan di Kompas, Rien sudah di langit. Seingat saya, ia lebih sering di luar negeri daripada di Indonesia. Saya pernah bersama Rien saat peliputan KTT Non Blok pada saat Soeharto berkuasa. Rien sangat akrab dengan sumber-sumber di Deplu maupun istana. Saya kenal, saya berkawan, tetapi selama bertahun-tahun saya tidak pernah terlibat pergunjingan yang dalam soal pekerjaan dengan Rien.
Tidak lama setelah Timtim berpisah dari Indonesia, saya mendengar mbak Rien sakit serius. Bolak-balik ia dirawat di rumah sakit karena virus yang bersarang di otaknya. Saya sempat mengunjunginya sekali di RS Panti Rapih di Yogyakarta. Penyembuhannya memakan waktu yang cukup lama. Pasca sakit, Rien memang tidak seintensif dulu lagi dalam melakukan perjalanan ke luar negeri. Apalagi, setelah Rupiah jatuh Kompas pelit mengirimkan wartawannya ke luar negeri. Bahkan, ketika Paus Yohanes Paulus II wafat, Kompas tidak kunjung mengirimkan wartawannya karena masih menunggu undangan dari Vatikan….
Setelah itu saya mendengar khusak-khusuk dari desk luar negeri. Editor desk luar negeri akan dipegang oleh Myrna Ratna. Simon Saragih mempertanyakan keputusan itu. Mengapa bukan Rien Kuntari yang ia anggap lebih berkompeten dalam posisi itu.
Tiba-tiba saya mendengar berita yang cukup mengejutkan. Rien dipanggil oleh Trias Kuncahyono. Ia diperintah pindah ke Yogyakarta, diberi jaba
tan sebagai subeditor, tetapi tidak diperbolehkan melakukan meliput, menulis berita, dan campur tangan dalam urusan redaksi. Putusan itu disertai pula ultimatum “take it or leave it”. Laksanakan atau keluar dari Kompas. Bagaimana mungkin seorang wartawan senior yang sudah menjadi ahli disuruh mundur lagi ke titik nol, bahkan tidak boleh menulis. Padahal Pak Jakob selalu berkata tugas wartawan adalah menulis!
Beberapa hari setelah mendengar kabar itu, saya mendatangi Mbak Rien di mejanya secara provokatif. Saya menawarkan kepadanya apa yang bisa saya bantu. Saya sengaja berbicara keras-keras, sekaligus supaya dilihat orang lain. Saya tidak suka dengan sikap wartawan yang takut membela yang lemah. Sejak itulah Rien menjadi sahabat saya.
Saya menjadi makin dekat Rien setelah ia bergabung dalam kepengurusan serikat pekerja Perkumpulan Karyawan Kompas. Rien sebelumnya tidak terlalu cocok dengan cara-cara kami berjuang dalam serikat pekerja. Karena itu sekalipun berada dalam tim inti kepengurusan Rien tetap bukan seorang aktivis, meski tidak diragukan Rien adalah sosok yang kokoh memegang komitmennya. Ia merupakan salah anggota pengurus yang ikut merencanakan perjuangan merebut kembali saham karyawan dan merupakan salah satu anggota pengurus yang menyatakan bersedia dipecat demi mencapai tujuan itu. Dalam banyak hal saya bertentangan dengan Rien, terutama dalam soal “cara”. Rien menyukai cara yang halus, saya merasa lebih tepat berjuang dengan cara yang lebih keras supaya bisa menembus mata hati kata hati yang beku.
Berkat kolaborasi antara yang bersuara keras dan lembut itulah akiharnya
kesepakatan antara Perkumpulan Karyawan Kompas dan manajemen tercapai dan ditandatangani kedua belah pihak pada 13 September 2006. Akan tetapi hanya berselang dua bulan kemudian pembersihan aktivis Perkumpulan pun dilakukan oleh manajemen yang berakhir dengan pemecatan saya pada 8 Desember 2006. Kesepakatan itu kini tinggal jadi kesepakatan di atas kertas. Akan tetapi kesepakatan itu tetap masih hidup dan seandainya kelak ada kebangkitan lagi gerakan pekerja di Palmerah, ini akan menjadi senjata penting bagi mereka. Jelas soal desakan pelaksanaan kesepakatan itu diabaikan dan tidak bisa dituntut pertanggungjawabann ya kepada pengurus boneka Perkumpulan sekarang yang dipimpin Tjahja Gunawan dan Adhi KSP. Tjahja dulu adalah wartawan Kompas dari Bandung yang hadir dalam deklarasi Sirnagalih. Saya tidak tahu anggota AJI atau masih jadi anggota AJI atau tidak.
Pada saat tragedi terjadi, ketika saya dibekuk dan disekap di pos satpam Kompas-Gramedia, Rien adalah orang pertama yang mendatangi dan mencoba menyelamatkan saya. Saat itu Syahnan Rangkuti, ketua kami, sedang bertugas di luar kota. Belakangan saya mendapat cerita dari Rien, begitu mendapat sms dari saya ia langsung mencoba menemui saya tetapi dicegah oleh satpam sehingga ia hanya bisa mengingatkan satpam agar tidak sedikitpun melukai saya. Tidak sampai di situ saja. Rien adalah orang yang secara terbuka mengungkapkan keperpihakannya pada saya. Ketika semua karyawan dan wartawan Kompas tidak boleh menyatakan netral, Rien tetap berani bersaksi, berbicara apa adanya, baik ketika dipanggil sebagai saksi di kepolisian, Dinas Tenaga Kerja,maupun di pengadilan. Karena ia berani berbicara apa adanya, kesaksiannya jelas mengungtungkan pihak saya. Sikap itulah yang membuat Rien semakin jauh dari redaksi dan manajemen Kompas. Sehari-hari ia tersendiri di redaksi sejak Syahnan telah diasingkan di Riau.
Dalam kesendirian itulah Rien diam-diam menyelesaikan tugas penulisan buku Timtim yang ternyata kemudian justru diterbitkan oleh Penerbit Mizan, bukan Penerbit Kompas. Rien menunjukkan desain sampul buku itu sebelum naik cetak. Rencananya buku itu akan diluncurkan di Bentara Budaya, tetapi skenario itu pun batal. Dalam beberapa kali pertemuan sebelum buku itu diluncurkan, Rien sempat mengemukan kecemasan menyangkut keselamatan dirinya bila buku itu terbit.
Peluncuran buku tersebut mendapat sambutan hangat dari publik tetapi
diboikot oleh “meja tengah” pimpinan redaksi Kompas. Ternyata banyak orang mempertanyakan mengapa buku itu tidak diterbitkan Mizan tetapi Kompas. Saya sempat mendengar cerita dari Rien bahwa Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bangun ketika ditanya koleganya tentang masalah itu berkilah bahwa metodologi penulisan buku itu tidak jelas. Metodologi apa? Setahu saya tidak ada metodologi catatan seorang wartawan. Saya mendengar juga cerita dari Rien, ketika ia dipanggil ke ruangan Pak Jakob di lantai VI. Di situ, di depan sejumlah pimpinan Kompas, Pak Jakob memuji buku itu. Rien juga sempat mengatakan bahwa di pertemuan informal itu se pimpinan Kompas mendatanginya dan berbisik, “Sayang, Anda di pihak Wisudo….”
Saya terus berhubungan dengan Rien setelah peluncuran buku itu. Ia agak depresi karena merasa terancam tetapi tidak mendapatkan perlindungan dari redaksi Kompas. Saya sempat kehilangan jejak karena Rien menghilang beberapa lama. Saya tahu ia merasa terancam. Kalau kemudian ia tidak bisa dihubungi Budiman Tanuredjo atau pimpinan Kompas lainnya, itu karena Rien telah patah arang. Kompas yang pernah meminangnya tidak lagi peduli terhadap dirinya. Saya dengar mbak Maria sempat menemui Rien di Yogyakarta tetapi pertemuan itu tidak menghasilkan saling pengertian. Tiba-tiba Rien mendapatkan surat peringatan ketiga, Kompas mengajukan izin PHK ke Dinas Tenaga Kerja, dan beberapa bulan kemudian gajinya dihentikan. Saya tidak menyangka bahwa pasca Suryopratomo, ternyata manajemen dan redaksi Kompas tidak berubah. Lupa pada asal usulnya.
Saya tahu persis bahwa pasal yang akan dipergunakan manajemen dan redaksi Kompas adalah “mangkir”. Sekalipun secara faktual bisa dikatakan seperti itu tetapi duduk perkaranya tidak demikian. Adalah tidak mungkin menuduhkan pasal kepada Rien bahwa ia seorang wartawan pemalas, bolos, dan pemakan gaji buta. Rien telah bekerja di Kompas sebagai seorang profesional selama 18 tahun, sebagai wartawan terbaik, masa bisa dikatakan pemalas? Kalau pemalas, mengapa ia bisa menghasilkan buku karya jurnalistik tidak dihasilkan wartawan Kompas lainnya? Kalau ia pemalas, mengapa dalam tiga bulan terakhir gajinya naik dua kali, mendapatkan bonus, dan mendapatkan nilai “A”-nya yang pertama setelah bertahun-tahun bekerja di Kompas?
Rien bukanlah seseorang yang ngotot mempertahankan haknya seperti saya.
Ia tidak bisa berteriak ketika diperlakukan tidak adil. Yang saya heran lagi, saya mendengar issu santer yang dihembuskan di redaksi Kompas adalah Rien hanya menuntut besaran uang pesangon dan bekerja rangkap. Saya tahu persis dua hal itu tidak benar. Saya juga heran ahli hukum PSDM Kompas Franz Lakaseru makin pintar dengan mengeluarkan surat pemberitahuan penghentian gaji Rien, bahkan sebelum kasus ini dibawa ke pengadilan. Ketika manajemen Kompas berkilah: masak tidak kerja makan gaji buta, wartawan Kompas menganggukkan kepala bersetuju. Mereka tidak paham bahwa peraturan perundang-undangan menyatakan bahwa pekerja berhak mendapatkan upah sampai penyelesaian perselisihan berkekuatan hukum.
Keheranan saya atas sikap Lakaseru adalah karena ia selalu bermanis kata di hadapan Rien. Sebenarnya saya tidak perlu heran juga bila Lakaseru bersikap seperti itu karena ia adalah orang baru. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Rien lebih paham akan nilai-nilai Kompas daripada Lakaseru.
Saya sangat prihatin dengan nasib Rien saat ini. Ketika ia menjadi reporter baru di Kompas, ia selalu berangkat ke luar negeri dengan dibekali kartu Dinner’s Club unlimited. Setelah delapan belas tahun di Kompas, ia ke luar negeri sebagai wartawan buangan, seorang diri, kehidupannya hanya ditopang uluran tangan kawan-kawannya di Amerika. Di sana kini ia sedang mengalihbahasakan bukunya dalam bahasa Inggris dan akan meneruskan menulis buku kedua dan ketiga.
Heran sekali ketika saya membaca pernyataan Sekretaris Perkumpulan
Karyawan Kompas (boneka) Adhi KSP yang menyatakan prihatin tetapi membenarkan pemecatan Rien. Mungkin ini adalah satu-satunya pengurus serikat pekerja atau serikat buruh di dunia ini yang membela perusahaan dalam kasus pemecatan. Saya tidak heran bila penyair, mantan sekjen PWI, Hendry CH Bangun juga mendukung pemecatan ini.
Saya tidak heran bila seorang reporter baru dari Jawa Timur yang belum pernah saya baca tulisannya bergabung dalam paduan suara mendukung pemecatan Rien. Mereka lupa bahwa “senjata” yang dipergunakan untuk “menikam” Rien juga bisa dipergunakan untuk mereka dan rekan-rekan mereka yang lain. Mereka lupa bahwa hilangnya kritisisme berarti pula hilangnya jurnalisme. Tidak heran bila banyak wartawan baru Kompas sangat sibuk mengumpulkan poin penilaian karya, terobsesi mendapatkan bonus tahunan, dan berlomba-lompa menjadi kepala biro, subeditor, dan jabatan-jabatan duniawi lainnya. Seperti kata Johnson Pandjaitan, manajemen dan redaksi Kompas rupanya lebih menghayati nilai-nilai Suryopratomo daripada nilai-nilai PK Ojong atau Jakob Oetama.
Saya hanya bisa bersyukur saya telah melewati zaman gelap selama saya bekerja di Kompas. Saya hanya bisa berharap pada akhirnya Rien mendapatkan keadilan.
Jurnalis hidup bukan untuk roti saja tetapi juga untuk kebenaran.
Pamulang, 12 Oktober 2009
P Bambang Wisudo
Mantan Sekretaris Perkumpulan Karyawan Kompas, dipecat oleh Pemimpin Redaksi Suryopratomo Desember 2006. Pemecatan dibatalkan oleh Jakob Oetama dan mengundurkan diri sebagai wartawan Kompas Desember 2008.


I simply believe that capitalists, most likely are the enemy of journalists. We always have a different perspective in seeing things.
I remembered we have one, which i assumed as a capitalist, among our lecturer. Kaharudin Ostman, gave us lecture about broadcasting last week. He has a marketing background, started his career as a marketing staff in one of malaysian tv station.
Recently he got into a top position the company.
Kaharudin lectured us, about broadcasting. He had a concept about multitasking in news reporting. He stated that a cameraperson, or a reporter, should have doubled as a driver, when doing the report.
He believed, by cutting down people, is the best form of efficiency, and will increasing company’s profit.
His statement caused an emotional reaction and critics from participants, includes me.
I stated that Kaharudin shouldn’t have made comments about multi tasking, if he never experienced how to be a TV reporter.
And others participants, especially those from TV station, gave the same reaction. Some made critics about how Kaharudin always think about profit.
Steve’s Perspective
I told Stephen Quinn, our today’s lecturer, about this, during our coffee break discussion.
Also joined the club, was Rush from Brunei times, and Jun from RTM. Both of them are printed Journalists.
As far as I can see, Steve seems to have same opinion with us, about this multitasking and efficiency issue. He stated that sometimes the companies only think about cost efficiency and ignoring the quality of news reporting.
As a journalist, I must say that the capitalists are giving us hard time in doing our job. Unfortunately, media industry is falling into a capitalists hand.
Hi, welcome to my blog.
As i put the “speak out” as the title, i hope that we can speak out about many things that we probably can’t , shouldn’t, or restricted, in the outside.
So please, feel free to leave any comments.
Warm regards
Bimzki
Welcome to your brand new blog at Edublogs.
To get started, simply log in, edit or delete this post and check out all the other options available to you.
Also, please consider becoming an Edublogs Supporter – you can remove ads from yours and other blogs, upload up to 5GB or audio, video and every other sort of content and access great features under your ‘Plugins’ menu.
Supporters are what keeps Edublogs running and providing free blogs for education, so give it a go today
For assistance, visit our comprehensive support site, check out our getting started with Edublogs guide or stop by The Edublogs Forums to chat with other edubloggers.
You can also subscribe to our brilliant free publication, The Edublogger, which is jammed with helpful tips, ideas and more.
And finally, if you like Edublogs but want to be able to simply create, administer, control and manage hundreds of student and teacher blogs at your school or college, check out Edublogs Campus… it’s like Edublogs in a box, all for you.
Thanks again for signing up with Edublogs!